















Baca Selengkapnya...
Dugaan pelanggaran HAM
Eksekusi hukuman mati terhadap Yehya merupakan eksekusi kesembilan yang telah berlangsung di Yaman dalam tahun ini. Menurut Amnesty International, Yaman adalah salah satu dari 59 negara yang masih mendukung penuh hukuman mati.
Amnesty International mencatat, Yaman telah mengeksekusi hukuman mati terhadap 13 orang tahun lalu. Namun, karena tidak ada data resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah Yaman, jumlah mereka yang terkena hukuman mati bisa lebih besar dari data yang ada.
Eksekusi hukuman mati di Yaman diberlakukan terhadap aksi kriminal disertai kekerasan dan tanpa kekerasan termasuk perzinahan maupun murtad. Hukuman mati pada masa lalu di negara itu dijalankan oleh sekelompok penembak, tetapi beberapa tahun terakhir laporan yang beredar menyebutkan, eksekusi dilaksanakan dengan merajam atau memenggal kepala terpidana.
Dijalankannya hukuman agama secara ketat di negara padang gurun itu menorehkan keprihatinan tersendiri dalam catatan hak asasi manusia. Sampai saat ini, masih belum diketahui apakah Yehya telah menjalani persidangan yang adil terhadap dirinya.Keadaan Mamat kini sungguh memprihatinkan dengan penyakit tumor ganas yang dideritanya
Kondisi ekonomi yang pas-pasan membuat keluarga Mamat yang kini sudah berusia 32 tahun sejak kecil tidak pernah mendapatkan pengobatan yang berarti pada penyakit tomor ganas yang tumbuh di wajahnya. Saat ini kondisi wajah Mamat sudah sangat memprihatinkan karena daging tumbuh yang sudah menutupi wajahnya tersebut sangat susah di operasi hingga kembali normal.
Oleh sebab itulah Mamat, (32), warga Kampung Cisampang RT 03/03, Desa Cikangkareng, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Cianjur, hanya bisa pasrah, saat dipemeriksa di ruang spesialis poli bedah RSUD Cianjur. Mamat ke rumahsakit selasa (16/2) sore, hingga Rabu (17/2) siang masih menjalani perawatan intensif tim dokter rumah sakit.
Ditemani ayahnya Ode, (80), serta kakaknya, dadang Sukmana, (39), dan Siti Ismawati, (29), Mamat hanya diam dan tanpa bicara sedikitpun. Setengah wajah Mamat sudah tidak bisa terlihat . Hal tersebut, terjadi sejak Mamat baru lahir. Saat itu, bola mata Mamat sebelah kiri tidak normal, dan hanya terlihat bola mata putihnya saja, sehingga sudah tidak bisa melihat dengan jelas. Namun, karena tidak terjadi apa-apa, pihak keluarga tidak membawa Mamat ke dokter atau diperiksa.
Dalam perkembangan usianya,kondisi Mamat semakin memprihatinkan. Mata sebelah kiri Mamat menjadi menonjol ke luar. Sejak saat itu, pihak keluarga akan memeriksanya ke Puskesmas, namun tidak dilakukan, karena dengan alasan tidak memiliki biaya. Hingga berusia 32 tahun, wajah Mamat sudah tidak dapat dikenali lagi.
Namun akhirnya. melihat kondisi tersebut, pihak keluarga dibantu pemerintah desa setempat, merujuknya ke RSUD Cianjur, untuk mendapatkan perawatan intensif. Menurut Siti Ismawati, adik Mamat, kakaknya diketahui memiliki penyakit sejak lahir. “Kami sebenarnnya ingin memeriksakannya ke dokter, tetapi melihat ekonomi keluarga yang serba kekurangan, niat tersebut urung dilakukan,” ujar Siti, saat di RSUD Cianjur.
Sementara itu, dr Lili spesialis poli bedah RSUD Cianjur, mengaku, untuk mengobati Mamat harus dirujuk ke RS Hasan Sadikin Bandung. Pasalnya, peralatan di RSUD Cianjur belum memadai. Selanjutnya, berdasarkan hasil pemeriksaan, diduga Mamat mengidap penyakit tomor ganas pada sarap tepi. “Kalau dioperasi juga tidak cukup hanya satu kali saja, harus beberapa kali operasi. Sedangkan untuk sembuh total kemungkinan tidak bisa, karena sudah terlalu parah dan sulit untuk disembuhkan,” pungkasnya.
Semoga Kang Mamat mendapatkan jalan pertolongan dari Tuhan Yang Maha Kuasa agar apa yang dideritanya kini bisa normal kembali , marilah kita berbagi buat Kang Mamat, bagi yang mampu mungkin bisa berbagi materi, bagi lainnya paling tidak dengan do’a yang ikhlas untuk kesembuhannya
Sumber: Poskota dan Pikiran Rakyat
Anak-anak disebuah kampung pemulung di Cina yang bersemangat untuk belajar di sela sela kegiatan mereka mencari nafkah
Seperti kita ketahui Cina merupakan salah satu negara yang saat ini pertumbuhan ekonomi dan pembangunan infrastruktur paling cepat di dunia. Negara yang menjadi momom dalam bidang perekonomian karena dianggap mengancam perekonomian bukan hanya negara negara berkembang namun juga negara negara maju semua kuatir dengan serang barang barang produksi Cina. Cina juga merupakan negara dengan cadangan devisa terbesar di dunia.
Kerasnya hidup tidak menghalangi kegigihan mereka untuk harus tetap menuntut ilmu
Apakah yang membuat mereka maju? ruanghati.com mendapatkan beberapa foto foto dari sebuah mail list tentang bagaimana gigih dan uletnya masyarakat kelas bawah di Cina untuk belajar. Foto ini disebutkan merupakan sebuah potret satu komunitas pemulung di pinggiran kota besar. Kehidupan mereka yang sangat keras harus ditempuh bukan hanya oleh para orang tua mereka namun para anak-anak yang kecil. Namun kegigihan anak-anak pemulung disana untuk belajar sungguh patut diacungi jempol.
Bagaimana semangat mereka untuk menuntut ilmu ditengah sulitnya mencari nafkah bisa kita jadikan inspirasi
Disela kegiatan mereka untuk menyambung hidup, diisi dengan belajar. Mungkin tidak berlebihan bila kita harus mengambil hikmah untuk belajar dari hal ini. Agar suatu hari kelak kitapun bisa bangkit menjadi bangsa yang besar
Dimana ada waktu luang di isi dengan belajar
Kalau saja mereka yang dalam himpitan ekonomi seperti ini tetap bersemangat untuk belajar bagaimana kita yang serba kecukupan
Sungguh kehidupan yang keras harus dijalani anak ini
Potret kehidupan masyarakat kelas bawah yang tetap gigih untuk menuntut ilmu
Akhirnya dengan kegigihan anak inipun memperoleh ijasah kelulusan
Bagi yang merasa kecukupan tidakkah tergerak kita untuk lebih giat belajar dan menuntut ilmu?