Tampilkan postingan dengan label puisi religius. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi religius. Tampilkan semua postingan

5 Negara Pemilik Taman Bunga Terbaik di Dunia

Untuk benua yang mempunyai empat musim di setiap tahunnya, kedatangan musim semi mungkin ditunggu-tunggu untuk mereka penggemar bunga karena biasanya di musim ini bunga-bunga akan bermekaran. Hamparan kebun bunga yang awalnya hanya terlihat seperti ladang yang dominan warna hijau akan berubah warna dengan warna penuh keceriaan.

1. Belanda




Berwisata ke Belanda selama musim semi tanpa melihat bunga tulip dan daffodil adalah kesalahan besar. Pada masa bermekarannya, bunga tulip ini akan dipanen dan dikirim ke penjuru dunia. Perkebunan bunga di Belanda akan berwarna pelangi pada saat bunga ini bermekaran. Biasanya ini akan terjadi selama bulan April sampai dengan September, pasti anda akan menemukan hamparan bunga tulip yang indah di kitaran bulan itu.

Kunjungi Alkmaar di bagian Utara Belanda dimana selain anada akan berwisata bunga andapun akan diberitahu sejarah kota dan mencoba keju gratis hasil ladang mereka. Selain itu, tujuan wisata bunga yang lainnya adalah kota Keukenhoff yang terkenal sebagai perkebunan bungan terbesar.


2. Jepang




Jepang terkenal akan bunga sakura (cherry blossom) yang bermekaran menyebar di kota Tokyo, Nagasaki, Kyoto dan Osaka. Wilayah perdesaan di Jepang bertambah menjadi cantik apabila bunga ini bermekaran. Akan menyenangkan bila berwisata ke Jepang pada saat bunga ini bermekaran, anda akan tidak tahan untuk berpiknik di dekat bunga tersebut dengan hamapran rumput hijau yang luas sebagai alasnya dan hamparan langit biru yang cerah sebagai atapnya.


3. New Zealand




Negara ini mempunyai lansekap indah yang tak terhitung banyaknya. Jika anda ingin mendapatkan lansekap kebun bunga dengan warna-warni permen, kunjungilah ke bagian selatan pulau ini dan kekaguman anda pada New Zealand akan bertambah. Selama musim panas, cobalah kunjungi Lake Tekapo yang dipenuhi bunga-bungai indah di sekitarnya.


4. Perancis




Wisatawan akan berdatangan ke Provence di Perancis setiap tahun untuk melihat hamparan kebun lavender, poppies dan bunga matahari. Pemandangan ini seperti versi pemandangan hidup yang direkam oleh para pelukis, sangat indah. Di Provence, anda tidak akan berwisata bunga saja tapi juga wisata kota dimana anda akan dibawa ke pabrik anggur, landmark kota dan kawasan perdesaan. Selain di Provence, anda pun bisa berwisata bunga di Luberon dan Ventoux, untuk menambah koleksi foto anda.


5. Denmark




Sebagian besar wilayah Denmark dipenuhi oleh hutan, padang rumput dan perkebunan. Tak heran jika Denmark termasuk di tujuan wisata untuk para pencinta bunga. Pada saat musim semi, anda akan melihat istana tua yang berlatar belakang hamparan bunga. Bunga yang akan anda jumpai pada musim semi di Denmark antara lain, poppies, aster dan red clover. Jika anda penggemar bunga anggrek, anda harus menyempatkan berkunjung ke kota Gentofte




sumber :http://haxims.blogspot.com/2011/07/5-negara-pemilik-taman-bunga-terbaik-di.html

Baca Selengkapnya...

PERKEMBANGAN DAN AKTUALISASI BERAGAMA MASA REMAJA DAN DEWASA

A. Pendahuluan
Manusia adalah makhluk yang beketuhanan atau disebut homodivinous (makhluk yang percaya adanya Tuhan) atau disebut juga homoreligious artinya makhluk yang beragama. Berdasarkan hasil riset dan observasi, hampir seluruh ahli ilmu jiwa sependapat bahwa pada diri manusia terdapat semacam keinginan dan kebutuhan yang bersifat universal. Kebutuhan ini melebihi kebutuhan-kebutuhan lainnya, bahkan mengatasi kebutuhan akan kekuasaan. Keinginan akan kebutuhan tersebut merupakan kebutuhan kodrati, berupa keinginan untuk mencintai dan dicintai Tuhan (Jalaluddin, 1997 : 54-57).
Perkembangan jiwa keagamaan pada manusia dimulai sejak manusia dilahirkan ke dunia. Pada masa anak-anak, manusia mengenal agama lewat pengalamannya melihat orang tua melaksanakan ibadah, mendengarkan kata Allah dan kata agamis yang mereka ucapkan dalam berbagai kesempatan. Sikap bergama terus berkembang sejalan dengan perkembangan pola pikir dan perkembangan usia. Keagamaan pada masa remaja lebih meningkat dibanding dengan masa anak-anak, dan keagamaan orang dewasa akan lebih meningkat dibanding dengan masa remaja.

B. Perkembangan Agama Masa Remaja
Dalam pembagian tahap perkembangan manusia, maka masa remaja menduduk tahap progresif. Dalam pembagian yang agak terurai masa remaja mencakup masa juvenilitas (adolescantium), pubertas dan nubilitas (Jalaludin, 200874).
Sejalan dengan tahap perkembangan jasmani dan rohaninya, maka agama pada remaja turut dipengaruhi perkembangan itu. Maksudnya, penghayatan para remaja terhadap agama dan tindak keagamaan yang tampak pada para remaja banyak berkaitan dengan faktor perkembangan tersebut.
Perkembangan agama pada masa remaja ditandai oleh beberapa faktor perkembangan rohani dan jasmaninya. Perkembangan itu antara lain:
1. Pertumbuhan Pikiran dan Mental
Ide dan unsur keyakinan beragama diterima dari masa kanak-kanaknya sudah tidak begitu menarik bagi mereka. Sifat kritis terhadap ajaran agama mulai timbul. Selain masalah agama mereka pun sudah tertarik pada masalah kebudayaan, sosial, ekonomi, dan norma-norma kehidupan lainnya.
Berdasarkan penelitian, bahwa agama yang ajarannya bersifat lebih konservatif lebih banyak berpengaruh bagi para remaja untuk tetap taat pada ajaran agamanya. Sebaliknya, ajaran agama yang kurang konservatif-dogmatis dan agak liberal mudah merangsang pengembangan pikiran dan mental para remaja, sehingga mereka banyak meninggalkan ajaran agamanya. Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan pikiran dan mental remaja mempengaruhi sikap keagamaan mereka.
2. Perkembangan Perasaan
Berbagai perasaan telah berkembang pada masa remaja. Perasaan sosial, etis, dan estetis mendorong remaja untuk menghayati perikehidupan yang terbiasa dalam lingkungannya. Kehidupan religius akan cenderung mendorong dirinya lebih dekat ke arah hidup yang religius pula. Sebaliknya, bagi remaja yang kurang mendapat pendidikan dan siraman ajaran agama akan lebih mudah didominasi dorongan seksual. Masa remaja merupakan masa kematangan seksual. Didorong oleh perasaan ingin tahun dan perasaan super, remaja lebih mudah terperosok ke arah tindakan seksual yang negatif.
3. Pertimbangan Sosial
Corak keagamaan para remaja juga ditandai oleh adanya pertimbangan sosial. Dalam kehidupan keagamaan mereka timbul konflik antara pertimbangan moral dan material. Remaja sangat bingun menentukan pilihan itu. Karena kehidupan duniawi lebih dipengaruhi kepentingan akan materi, maka para remaja lebih cenderung jiwanya untuk bersikap materialistis.


4. Perkembangan Moral
Perkembangan moral para remaja bertitik tolak dari rasa berdosa dan usaha untuk mencapai proteksi. Tipe moral yang juga terlihat pada para remaja juga mencukupi:
a. Self-directif, taat terhadap agama atau moral berdasarkan pertimbangan pribadi.
b. Adaptive, mengikuti situasi lingkungan tanpa mengadakan kritik.
c. Submissive, merasakan adanya keraguan terhadap ajaran moral dan agama.
d. Unadjusted, belum meyakini akan kebenaran ajaran agama dan moral.
e. Deviant, menolak dasar dan hukum keagamaan serta tatanan moral masyarakat.
5. Sikap dan Minat
Sikap dan minat remaja terhadap masalah keagamaan boleh dikatakan sangat kecil dan hal ini tergantung dari kebiasaan masa kecil serta lingkungan agama yang mempengaruhi mereka (besar kecil minatnya).
6. Ibadah
a. Pandangan para remaja terhadap ajaran agama, ibadah, dan masalah doa sebagaimana yang dikumpulkan oleh Ross dan Oscar Kupky menunjukkan:
1) Seratus empat puluh delapan siswi dinyatakan bahwa 20 orang di antara mereka tidak pernah mempunyai pengalaman keagamaan sedangkan sisanya (128) mempunyai pengalaman keagamaan yang 68 di antaranya secara alami (tidak melalui pengajaran resmi).
2) Tiga puluh satu orang di antara yang mendapat pengalaman keagamaan melalui proses alami mengungkapkan adanya perhatian mereka terhadap keajaiban yang menakjubkan di balik keindahan alam yang mereka nikmati.
b. Selanjutnya mengenai pandangan mereka tentang ibadah diungkapkan sebagai berikut:
1) 42 % tak pernah mengerjakan ibadah sama sekali.
2) 33 % mengatakan mereka sembahyang karena mereka yakin Tuhan mendengar dan akan mengabulkan doa mereka.
3) 27 % beranggapan bahwa sembahyang dapat menolong mereka meredakan kesusahan yang mereka derita.
4) 18 % mengatakan bahwa sembahyang menyebabkan mereka menjadi senang sesudah menunaikannya.
5) 11 % mengatakan bahwa sembahyang mengingatkan tanggung jawab dan tuntutan sebagai anggota masyarakat.
6) 4 % mengatakan bahwa sembahyang merupakan kebiasaan yang mengandung arti yang penting.
Jadi, dari hasil penelitian di atas hanya 17% yang mengatakan bahwa sembahyang bermanfaat untuk berkomunikasi dengan Tuhan, sedangkan 26% di antaranya menganggap bahwa sembahyang hanyalah merupakan media untuk bermeditasi.
Tingkat keyakinan dan ketaatan beragama para remaja banyak tergantung dari kemampuan mereka menyelesaikan keraguan dan konflik batin yang terjadi dalam diri mereka. Usia remaja memang dikenal sebagai usia rawan. Remaja memiliki karakteristik khusus dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Secara fisik remaja mengalami pertumbuhan yang sangat pesat, dan sudah menyamai fisik orang dewasa. Namun, pesatnya pertumbuhan fisik itu belum diimbangi secara setara oleh perkembangan psikologisnya. Kondisi seperti itu menyebabkan remaja mengalami kelabilan.
Dalam mengatasi kegalauan pada diri remaja, tokoh dan pemuka agama memiliki peran strategis dalam mengatasi kemelut batin remaja, bila mereka mampu melakukan pendekatan yang tepat. Sebaliknya bila gagal, maka kemungkinan yang terjadi adalah para remaja akan menjauhkan diri dari agama, mencari agama baru, atau rujuk ke nilai-nilai agama yang dianutnya dan mengubah sikap menjadi lebih taat.



C. Perkembangan Agama Masa Dewasa
Pada umumnya, ketika seorang telah mencapai usia dewasa, dia sudah mempunyai banyak ilmu pengetahuan dan pengalaman. Bila mereka melanjutkan studi, berarti telah berada pada pendidikan tinggi. Sedangkan selainnya mereka langsung berhadapan dengan maslah pekerjaan, masalah kemasyarakatan dan perkawinan. Dalam menghadapi beberapa permasalahan itu diantara mereka ada yang mampu menyelesaikan dengan sukses dan ada pula yang menglami kegagalan. Kegagalan yang dialami oleh orang dewasa dianggap sebagai suatu kewajaran. Memang terkadang juga menimbulkan kegoncangan jiwa, namun karena pada dasarnya pada usia dewasa ini mempunyai kesiapan mental, maka mereka mampu mengendalikan diri (Ramayulis, 2002:273)
Kemantapan jiwa orang dewasa setidaknya memberikan gambaran tentang bagaimana sikap keberagamaan pada orang dewasa. Mereka sudah memiliki tanggung jawab terhadap sistem nilai yang dipilihnya, baik sistem nilai yang bersumber dari ajaran agama maupun yang bersumber dari norma-norma lain dalam kehidupan. Pokoknya, pemilihan nilai-nilai tersebut telah didasarkan atas pertimbangan pemikiran yang matang. Berdasarkan hal ini, maka sikap keberagamaan seseorang di usia dewasa sulit untuk berubah. Jika pun terjadi perubahan mungkin proses itu terjadi setelah didasarkan atas pertimbangan yang matang.
Sikap keberagamaan orang dewasa memiliki perspektif yang luas didasarkan atas nilai-nilai yang dipilihnya. Selain itu, sikap keberagamaan ini umumnya juga dilandasi oleh pendalaman dan pengertian dan perluasan pemahaman tentang ajaran agama yang dianutnya. Beragama, bagi orang dewasa sudah merupakan sikap hidup dan bukan sekedar ikut-ikutan.
Sejalan dengan tingkat perkembangan usianya, maka sikap keberagamaan pada orang dewasa antara lain memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Menerima kebenaran agama berdasarkan pertimbangan pemikiran yang matang, bukan sekedar ikut-ikutan.
2. Cenderung bersifat realis, sehingga norma-norma agama lebih banyak diaplikasikan dalam sikap dan tingkah laku.
3. Bersikap positif terhadap ajaran, dan norma-norma agama, dan berusaha untuk mempelajari dan memperdalam pemahaman keagamaan.
4. Tingkat ketaatan beragama didasarkan atas pertimbangan dan tanggung jawab diri hingga sikap keberagamaan merupakan realisasi dari sikap hidup.
5. Bersikap lebih terbuka dan wawasan yang lebih luas.
6. Bersikap lebih kritis terhadap materi ajaran agama sehingga kemantapan beragama selain didasarkan atas pertimbangan pikiran, juga didasarkan atas pertimbangan hati nurani.
7. Sikap keberagamaan cenderung mengarah ke tipe-tipe kepribadian masing-masing, sehingga terlihat adanya pengaruh kepribadian dalam menerima, memahami serta melaksanakan ajaran agama yang diyakininya.
8. Terlihat adanya hubungan antara sikap keberagamaan dengan kehidupan sosialm, sehingga perhatian terhadap kepentingan organisasi sosial keagamaan yang sudah berkembang (Jalaludin, 2008:107-108).

D. Penutup
Dari pembahasan yang telah disampaikan di muka diketahui bahwa keberagamaan pada setiap orang dipengaruhi oleh beberapat faktor, di antaranya faktor usia. Oleh karena, keberagamaan remaja akan berbeda dengan keagamaan orang dewasa. Karena kestabilan jiwa para remaja berimplikasi pada sikap keberagamaan mereka yang masih labil. Sementara pada orang dewasa keberagamaan sudah dibilang matang karena kematangan kepribadian mereka.

REFERENSI:
Jalaludin. 2008. Psikologi Agama: Memahami Perilaku Keagamaan dengan Mengaplikasikan Prinsip-prinsip Psikologi. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Ramayulis. 2004. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia.
Darajdat, Zakiah. s1993. Pendidikan Islam dalam Keluarga dan Sekolah. Bandung: Ruhama.

Baca Selengkapnya...

JADWAL PUASA 2011 M – 1432 H

JADWAL PUASA 2011 – Semoga jadwal ramadhan 2011 dan jadwal puasa sunnah wajib lainnya di tahun 2011 ini bermanfaat untuk kita semua. Marhaban Ya Ramadhan. Sambil menunggu Jadwal Imsakiyah Departemen Agama RI, yuk ketahui jadwal puasa 2011.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhDrU1orvrz_rRaqd_Hb0Jkq5-pc6L_jBCR64qI45RT3MHrQdpK9cyyz4Ac_wD5FXWpT8YQealw-mr8Avor_Sc3J2EDLHVx7RlQgjhoHhAuIr3cPifxtDOlHSAfjMXTKYuhJIQ-R6M2U-QI/s1600/maaf_lagi_puasa_kompas.jpg

JADWAL PUASA 2011

1. Puasa tiap hari Senin dan Kamis.

2. Puasa 3 (tiga) hari setiap bulan – ‘shaumul biidh’ -

  • Yakni pada tanggal 13,14 dan 15 – penanggalan Islam – (saat bulan purnama).
  • 18, 19, 20 Januari 2011/ 13, 14, 15 Shafar 1432 H
  • 16, 17, 18 Februari 2011/ 13, 14, 15 Rabi’ul Awwal 1432 H
  • 18, 19, 20 Maret 2011/ 13, 14, 15 Rabi’ul Akhir 1432 H
  • 17, 18, 19 April 2011/ 13, 14, 15 Jumadil Awwal 1432 H
  • 17, 18, 19 Mei 2011/ 13, 14, 15 Jumadil Akhir 1432 H
  • 15, 16, 17 Juni 2011/ 13, 14, 15 Rajab 1432 H (Puasa 3 hari Tengah Bulan Hijriyah
  • 15, 16, 17 Juli 2011/ 13, 14, 15 Sya’ban 1432 H
3. Jadwal Puasa 2011 Puasa Ramadhan 1432 H :
(1 Agustus 2011 – 29 Agustus 2011)
Jadwal Imsakiyah 2011 Departemen Agama RI (masih menunggu keputusan resmi)

4. Puasa 3 (tiga) hari setiap bulan – ‘shaumul biidh’ -

  • 11, 12, 13 September 2011/ 13, 14, 15 Syawwal 1432 H
  • 11, 12, 13 Oktober 2011/ 13, 14, 15 Dzulqa’dah 1432 H
  • 10, 11 November 2011/ 14, 15 Dzulhijjah 1432 H ( 9 November 2011 bertepatan dengan hari tasyriq – 13 Dzulhijjah 1432 H, Hari tasyriq tidak diperkenankan berpuasa )
  • 9, 10, 11 Desember 2011/ 13, 14, 15 Muharram 1433 H

5. Puasa 1/3 (sepertiga) bulan – Yakni di bulan Dzulhijjah. Antara 28 Oktober 2011 – 26 November 2011/ Dzulhijjah 1432 H

6, Puasa tanggal 9 Dzulhijjah (Arafah) bagi selain orang yang melaksanakan haji. Yakni : 5 November 2011/ 9 Dzulhijjah 1432 H.

7. Puasa bulan Muharram – ‘Asyura’ selama 3 (tiga) hari – tanggal 9,10,11 Muharram.
Sangat dianjurkan tanggal 9 dan 10 ( Tasu’a dan ‘Asyura )
Yakni : 5, 6, 7 Desember 2011/ 9, 10, 11 Muharram 1433 H.

8. Puasa pada sebagian bulan Sya’ban, Antara 3 Juli – 31 Juli 2011.

9. Puasa 6 hari pada bulan Syawwal, Antara 31 Agustus – 28 September 2011.



Baca Selengkapnya...

Doa Nabi Yunus a.s.

Para Nabi adalah utusan Allah kepada manusia. Mereka adalah manusia biasa, hanya saja diberi Allah wahyu. Pada diri para Nabi Allah terdapat contoh teladan yang baik untuk ikutan umat. Ada contoh melalui amal perbuatan, ada ajaran dan anjuran yang dilakukan melalui lisan ada pula melalui sikap. Pada Nabi Yunus, pengajaran itu terdapat ketika beliau pergi dalam keadaan
marah disebabkan umatnya yang tidak mendengar dakwahnya. Nabi Yunus a.s. dipertemukan Allah dengan kesengsaraan di laut dan ditelan ikan besar.

Dalam perut ikan yang gelap gelita itulah, Yunus a.s. berdoa:


Ertinya:
"Tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, ya Allah, sesungguhnya aku adalah termasuk orang yang zalirn " (Al-Anbia: 87)


Doa Yunus pun didengar Allah, ia diselamatkan Allah, ikan besar itu terdampar di pantai. Allah SWT sungguh bijak. Kalau kepada Nabi Yunus Allah berikan pengajaran kepada umat manusia dengan cara pengalaman yang pahit, lalu kepada Nabi Muhammad SAW pengajaran umat diberikan melalui pengalaman baginda terhadap peristiwa Ummi Maktum.

Baca Selengkapnya...

CATATAN ANALIS: Jangan Mabuk Amarah ke Arab Saudi

DIPANCUNGNYA Ruyati, tidak bisa dipungkiri telah menyakiti seluruh rakyat Indonesia. Berbagai tuntutan juga dilayangkan kepada Arab Saudi. Bahkan, pemerintah memanggil Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia. Ide boikot haji pun muncul.

Akhirnya, DPR pun juga bersuara keras, untuk melakukan langkah tegas dan mengutuk perbuatan biadab memancung warga Indonesia tanpa pemberitahuan. Dalam Rapat Kerja dengan Menlu Marty Natalegawa, sang Menteri telah mengirim nota protes ke Arab Saudi.

Bagaimanapun, opini telah membawa situasi psikis rakyat Indonesia berang dan membenci cara Arab Saudi memancung Ruyati, hingga memendam mabuk amarah yang jika tidak dikendalikan, bisa berakibat negatif di kemudian hari. Saya menghimbau, mabuk amarah kepada Arab Saudi sebaiknya tidak diteruskan. Mengapa?

01. Tidak mengurangi rasa duka cita mendalam kita pada keluarga korban, sebaiknya peristiwa pemancungan Ruyati dijadikan wahana koreksi diri terhadap sistem perekrutan, pelatihan, dan pengiriman TKI/TKW kita ke luar negeri, khususnya ke Arab Saudi dan malaysia yang banyak terjadi kasus serupa.

02. Introspeksi tersebut penting, sehingga memberi manfaat positif pada perusahaan pengerah TKI/TKW agar menyadari bahwa pengiriman warga negara sebagai tenaga kerja ke luar negeri ternyata bukan hanya soal uang dan kuota. Namun lebih dari itu, Perusahaan Pengerah Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS) yang berjumlah hampir 600 perusahaan, wajib hukumnya memberikan bekal bahasa, ketrampilan, sumber daya manusia, serta ketrampilan melayani orang dengan baik.

Sehingga, pengiriman TKI/TKW mendatang, benar-benar sebuah pengiriman tenaga siap pakai. Tidak ada lagi keluhan majikan yang mengaku jengkel kepada TKI/TKW kita. Tidak ada lagi istilah majikan menyiksa pembantu asal Indonesia hanya gara-gara salahpaham bahasa dan persepsi.

03. Pemerintah sebaiknya meninjau kembali MOU yang telah dibuat antara Indonesia dengan pemerintah Arab Saudi. Jangan-jangan, penyiksaan yang terjadi di dalam rumah oleh majikan kepada pembantu asal Indonesia, terjadi justru karena MOU tersebut. Majikan tidak bisa memecat begitu saja terhadap pembantu asal Indonesia, karena terkait MOU/aturan yang telah disepakati. Akibatnya, pembantu tidak bisa juga mengundurkan diri ketika terjadi kekerasan oleh majikan, dan sebaliknya, majikan juga tidak bisa memutus kerja pembantu karena terikat perjanjian.

04. Kita juga harus menilik kembali, apakah seorang TKI/TKW mengerti apa yang telah ditandatangani saat berangkat dan memasuki rumah majikan. Semangat hidup di luar negeri boleh saja membara, namun juga harus teliti terhadap pasal-pasal perjanjian antara perusahaan pengerah tenaga kerja, calon pembantu, dan user pembantu di Arab Saudi. Jika calon TKI/TKW sudah mengerti betul isi perjanjiannya, secara otomatis si calon TKI/TKW tidak akan mengalami kejadian buruk di kemudian hari.

05. Saya mensinyalir, para calon TKI/TKW belum mengerti terhadap apa yang telah ditandatangani pada perjanjian terkait hubungan dirinya, majikan, dan perusahaan penyalur. Karena kondisi itu, maka peristiwa penyiksaan, penganiayaan, bahkan pembunuhan dan juga hukum pancung, akan terus terjadi.

06. Semua penyelesaian soal TKI/TKW, bukan hanya pada pemerintah Arab Saudi semata, namun juga lebih banyak pada kebijakan yang dibuat oleh pemerintah kita sendiri.

Mustofa B. Nahrawardaya
Koordinator Indonesian Crime Analyst Forum (ICAF)

Baca Selengkapnya...

Prinsip-Prinsip Imam Asy-Syafi'i Dalam Beragama :Muqaddimah




kitab
بسم الله الرحمن الرحيم
إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونتوب إليه، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له.
وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله صلى الله عليه وسلم وعلى آله وأصحابه أجمعين، أما بعد:
Tidak diragukan bahwa Imam Syafi’i –rahimahullah- adalah salah seorang ulama besar yang karismatik yang namanya tidak asing lagi bagi kaum muslimin, beliau termasuk sosok ulama pembaharu agama yang mempunyai jasa besar dan memiliki usaha yang mulia lagi berkah dalam mengajak umat untuk kembali kepada Al Qur’an dan Sunnah dan mendidik mereka diatas landasan Tarbiyah dan Tashfiyah.
Manhaj Imam Syafi’i dalam aqidah dan prinsip-prinsip beliau dalam beragama adalah manhaj dan prinsip Ahlusunnah wal jama’ah, tidak ada perbedaan, mereka mengambil dari sumber yang sama, yaitu Al Qur’an dan Sunnah, oleh karenanya perkataan Imam Syafi’i dan perkataan imam-imam Ahlusunnah yang lain seperti Imam Ahmad Bin Hambal, Malik, Abu Hanifah, Al Auzaa’i, Ats Tsauri, Sufyan Bin ‘Uyainah, Abdullah Bin Mubaarok dan yang lain tentang aqidah dan prinsip-prinsip beragama adalah sama tidak ada kontradiksi dan perbedaan kecuali dalam redaksinya saja[1].
Betapa bagusnya ungkapan Imam Abu Mudzoffar As Sam’aani –beliau adalah salah seorang ulama Syafi’iyah- yang mengatakan: “Jika kamu memperhatikan/membaca seluruh kitab-kitab karya mereka (Ahlussunnah) dari pertama sampai terakhir, yang klasik dan kontemporer, sedang zaman mereka berbeda dan tempat tinggalnya berjauhan, masing-masing tinggal di tempat yang terpisah, niscaya kamu dapatkan mereka dalam menjelaskan aqidah (prinsip-prinsip agama) dengan metode yang sama dan cara yang tidak berbeda, mereka mengikuti sebuah metode yang tidak akan melenceng dan condong darinya, perkataan mereka dalam hal tersebut satu, kamu tidak dapatkan kontradiksi dan perbedaan diantara mereka dalam suatu perkara sedikitpun, bahkan jika kamu kumpulkan apa yang keluar dari mulut mereka dan apa yang mereka nukilkan dari salaf (pendahulu) mereka, niscaya kamu dapati seolah-olah hal (perkataan) itu keluar dari satu hati dan muncul dari satu lisan”[2].
Adakah bukti yang lebih nyata yang menjelaskan akan kebenaran dari pada ini? Nah, apakah rahasia dan penyebab yang menjadikan mereka bersatu dalam aqidah dan prinsip-prinsip beragama? Tiada lain kecuali karena mereka semuanya mengambil agama dari sumber yang satu, yaitu Al Qur’an dan Sunnah, adapun orang-orang yang mengambil aqidah dan agamanya dari selain Al qur’an dan Sunnah, seperti akal, logika dan mimpi, maka mereka selalu dalam perselisihan yang tajam dan kontradiksi yang dahsyat, habis umur mereka akan tetapi tidak pernah bersatu dalam aqidah dan prinsip-prinsip beragama, kamu menyangka mereka bersatu tetapi hati mereka bercerai-berai dan bermusuhan, tentu ini adalah bukti kebatilan yang nyata dan kesesatan yang jauh, Allah Ta’ala berfirman:
وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ اخْتِلاَفاً كَثِيراً النساء: ٨٢
“Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya”.
Inilah pertanda ahlu bid’ah dan seluruh sekte yang menyimpang dari sunnah, mereka selalu dalam pertentangan yang berkepanjangan, adapun Ahlussunnah wal jama’ah apa yang mereka tulis dan katakan semuanya sama, tidak ada pertentangan dalam kandungan dan maknanya, oleh karenanya jika anda membaca kitab yang menjelaskan aqidah imam Syafi’i, atau kitab yang ditulis oleh Imam Ahmad Bin Hambal dalam aqidah, atau kitab yang ditulis oleh Syeikhul islam Ibnu Taimiyah dan yang ditulis oleh Syeikh Muhammad Bin Abdulwahhab tentang aqidah atau kitab yang ditulis oleh salah seorang ulama Ahlussunnah dizaman sekarang ini, niscaya anda akan mendapatkan aqidah yang sama dan prinsip-prinsip agama yang tidak berbeda dan berobah.
Aqidah Imam Syafi’i dan prinsip-prinsip beragama beliau adalah aqidah dan prinsip beragama ulama Syafi’iyyah yang berjalan diatas manhaj Imam mereka dan yang setia menelusuri jejak beliau yang selamat dari bermacam bentuk bid’ah dan syubuhat.
Kemudian sebagaimana yang dimaklumi, bahwa zaman Imam Syafi’i adalah awal munculnya bid’ah ilmu kalam dan bid’ah shufiyyah, keduanya adalah bid’ah yang sangat berbahaya, ilmu kalam merusak pemikiran dan keilmuan seseorang dan bid’ah shufiyah merusak akhlak dan ibadahnya.
Maka dengan penuh kecintaan kepada agama Allah yang mulia ini dan semangat untuk memperjuangkan sunnah Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam serta kesungguhan yang besar untuk memberikan nasehat kepada kaum muslimin, Imam Syafi’i bangkit dengan keilmuan yang beliau miliki untuk menghujat, membantah dan meng-counter seluruh bid’ah yang muncul di zamannya, sehingga beliau dikenal dikalangan ulama ahlusunnah sebagai seorang imam pembela/pejuang sunnah yang memiliki ketegasan dan kebencian yang dalam terhadap ilmu kalam, sampai sampai beliau mengatakan: “Hukumku bagi ahli kalam adalah dipukul dengan pelepah kurma, dan ninaikkan diatas unta kemudian dia dikelilingkan ke kampung seraya dikatan kepada khalayak: inilah kukuman bagi orang orang yang perpaling dari Al Qur’an dan Sunnah lalu menuju ilmu kalam/filsafat[3].
Akan tetapi yang sangat mengherankan, munculnya di tengah masyarakat yang menisbatkan diri kepada mazhab imam Syafi’i, orang orang yang menekuni dan mempelajari ilmu kalam, bahkan mereka mendirikan lembaga lembaga pendidikan yang berasaskan kepada aqidah ahlulkalam dan filsafat. Fenomena ini tidak khusus pada para pengikut mazhab imam Syafi’i saja, tetapi juga para pengikut mazhab yang lain, sementara seluruh para imam tersebut telah sepakat dalam mencela dan mengingkari ilmu kalam dan filsafat.
Dan yang sangat aneh bin ajaib lagi, munculnya dikalangan Syafi’iyyah mutakhirin orang orang yang menulis kitab berdasarkan aqidah ahlulkalam kemudian mereka menisbatkan hal itu kepada imam Syafi’i seraya berkata: “Ini adalah aqidah imam Syafi’i“, tentu ini adalah kebohongan yang sangat nyata. Inilah sebenarnya faktor utama yang menyebabkan munculnya kerancuan dan kebimbangan bagi para pemula dalam menuntut ilmu dalam mempalajari aqidah dan prinsip-prinsip beragama imam Syafi’i, sementara aqidah beliau adalah aqidah dan prinsip-prinsip dasar para imam Ahlussunnah yang lain sebagaimana yang telah diutarakan diatas.
Syekhul Islam Ibnu Taimiyah pernah ditanya tentang dua orang –keduanya bermazhab Syafi’i- yang berbeda pendapat dalam masalah aqidah, yang satu mengatakan: “Barangsiapa yang tidak meyakini bahwa Allah berada di langit, maka ia telah sesat”. Yang kedua mengatakan: “Sesungguhnya Allah tidak berada disuatu tempat”. Maka jelaskan kepada kami apa yang harus diikuti dari aqidah imam Syafi’i dan yang benar dari perkataan diatas? Beliau menjawab:
Aqidah imam Syafi’i dan aqidah para (ulama) salaf seperti (imam) Malik, At Tsauri, Al Auzaa’i, Ibnu Mubarok, Ahmad Bin Hambal, Ishaq Bin Rohawaih, dan ia adalah aqidah para masyaayekh yang diikuti, seperti Fudhail Bin ‘Iyaadh, Abu Sualaiman Ad Daaraani, Sahl Bin Abdullah At Tasturi dan yang lain, maka sesungguhnya tidak ada antara para imam tersebut dan yang lain perbedaan/pertentangan dalam perkara ushuluddin (aqidah). Begitu juga Imam Abu Hanifah, maka aqidah yang tetap dari beliau dalam (permasalahan) tauhid dan qadar dan yang semisalnya sesuai dengan aqidah para imam tersebut. Dan aqidah mereka adalah apa yang diikuti/diamalkan oleh para shahabat dan tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik, yaitu apa yang di katakan oleh Al Qur’an dan Sunnah” –kemudian Syekhul Islam menukil perkataan imam Syafi’i, Ahmad dan Malik tentang aqidah- kemudian berkata : Maka barangsiapa yang berbicara tentang Allah, nama-nama dan sifat-sifat-Nya dengan sesuatu yang menyelisihi Al Qur’an dan Sunnah, maka ia termasuk kepada orang orang yang bebicara tetang ayat-ayat Allah dengan batil, dan mayoritas dari mereka (ahlulbid’ah) menisbatkan kepada para imam kaum muslimin apa yang tidak mereka katakan, mereka menisbatkan kepada imam Syafi’i, Ahmad Bin Hambal, Malik dan Abu Hanifah aqidah-aqidah yang tidak mereka katakan/yakini, seraya berkata kepada para pengikut mereka: ini adalah aqidah imam si fulan, tetapi jika mereka diminta untuk mendatangkan nukilan (perkataan) yang shohih dari para imam tersebut nyatalah kebohongan mereka[4].
Inilah adalah sebuah kaedah yang harus digunakan untuk menghujat setiap orang yang menisbatkan kepada para imam Ahlussunnah -diantaranya imam Syafi’i- aqidah yang tidak mereka yakini dan prinsip yang tidak mereka amalkan, kita menuntut mereka untuk mendatangkan nukilan-nukilan yang shohih dari para imam tersebut, jika mereka tidak mampu mendatangkannya maka jelaslah kebatilan penisbatan tersebut dan nyatalah kebohongan para pelakunya.
Oleh karana itu pengikut sejati imam Syafi’i adalah orang orang yang mengikuti mazhab beliau dalam permasalahan ushuluddin (aqidah) dan permasalahan fiqih dan tidak membedakan antara keduannya, adapun orang yang menisbatkan diri kepadanya dalam permasalah fiqih, tetapi menyelisihiya dalam permasalahan aqidah dan prinsip-prinsip beragama, atau mengadopsi mazhab gado-gado, seperti ungkapan sebagian mereka:mazhabku adalah mazhab Syafi’i, tarekatku adalah tarekat Qodiriyah atau Naqasyabandiyah dan aqidahku adalah aqidah Asy’ariyah”, tentu ini adalah pernyataan yang aneh dan kontradiksi yang nyata, dan Imam Syafi’i tentu berlepas diri dari orang yang seperti ini, sebab tidak pernah beliau beraqidah Asy’ariyah dan mengikuti tarekat-tarekat shufiyyah, terekat beliau adalah Tarekat Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam, beliau tiada lain kecuali seorang Sunni Salafi dalam aqidah, ibadah, fiqih dan akhlak.
Imam Al Karaji (wafat: 532H) –beliau adalah salah seorang ulama Syafi’yyah- telah mencela dan mengingkari dengan keras sikap warna-warni seseorang dalam beragama seraya mengatakan: “Maka mengikuti mazhab salah seorang imam (dalam fiqih) dan meyelisihinya dalam aqidah, demi Allah ini merupakan kemungkaran secara syari’at dan akal, maka barangsiapa yang mengatakan: saya bermazhab Syafi’i dan beraqidah Asy’ari, maka kita katakan: ini adalah sikap/pernyataan yang kontradiksi, bahkan merupakan menyimpangan dan kesesatan, karena tidak pernah Syafi’i beraqidah Asy’ari[5].
Dan Imam Abu Mudzoffar As Sam’aani berkata: “Tidak pantas bagi seorangpun memperjuangkan mazhab Syafi’i dalam permasalahan furu’iyyah (fiqih) kemudian meninggalkan manhajnya dalam aqidah”[6].
Berangkat dari kenyataan dan fenomena diatas, maka merupakan kewajiban utama dan pertama bagi setiap individu muslim, untuk mempelajari aqidah Ahlussunnah dan prinsip-prinsip beragama mereka, yang merupakan prinsip beragama seluruh imam ahlussunnah, dan mewaspadai aqidah-aqidah yang sesat dan prinsip-prinsip yang batil yang dinisbatkan kepada mereka. Inilah diantara faktor utama yang mendorong para ulama, masyayekhdan tholabatul’ilmi untuk menulis kitab-kitab yang mengumpulkan perkataan perkataan para imam Ahlussunah dalam aqidah dan prinsip-prinsip beragama mereka, termasuk dalam hal ini Imam Asy Syafi’i –rahimahullah-.
Diantara kitab yang mengupas dan menjelaskan aqidah Imam Syafi’i sebagai berikut:
1- منازل الأئمة الأربعة, Karangan Imam Abu Zakariya Yahya Bin Ibrahim As Salmaasi (wafat: 505 H) –beliau salah seorang ulama Syafi’iyyah-, Dalam kitab ini beliau menjelaskan biografi singkat setiap imam, kemudian menukil perkataan mereka tentang aqidah dan prinsip-prinsip beragama. Kitab ini telah dicetak dengan tahqiq DR. Mahmud Kedah. Cet. Universitas Islam Madinah.
2- “الفصول في الأصول عن الأئمة الفحول إلزاما لذوي البدع والفضول“, Karangan Imam Abul Hasan Al Karji (wafat : 532 H) –beliau salah seorang ulama Syafi’iyyah-. Dalam kitab ini beliau menukil perkataan sebagian imam Ahlussunnah dalam aqidah, diantaranya: Imam Syafi’i, Ahmad, Malik, Bukhari, Ibnu ‘Uyainah, At Tsuari, Ibnu Mubarok, Laits Bin Sa’ad, Ishak Bin Rahawaih dan yang lain, tujuan beliau menukil dari para imam tersebut untuk membantah dan menghujat orang orang yang menisbatkan diri kepada seorang imam dalam masalah fiqih dan menyelisihinya dalam masalah aqidah, karena ini adalah kesesatan yang nyata dan kemungkaran yang besar. Kitab ini belum ditemukan, akan tetapi sebagian dari pembahasanya telah dinukil oleh Syekhul islam Ibnu Taimiyyah dalam sebagian kitabnya (lihat: Majmu’ fatawa: 4/175-177).
3- “عقيدة الشافعي, Karangan Al ‘Allaamah Muhammad Bin Rasul Al Barzanji (wafat: 1103 H) –beliau adalah salah seorang ulama Syafi’iyyah-, kitab ini telah dicetak dengan tahqiq oleh Syekh Muhammad Bin Abdurrahman Al Khumaiyyis.
4- “اعتقاد الأئمة الأربعة“, karangan Syekh DR. Muhammad Bin Abdurrahman Al Khumaiyyis, kitab ini telah cetak.
Beliau juga menulis makalah tentang (عقيدة الإمام أبي عبد الله محمد بن إدريس الشافعي) dan telah di muat dalam majallah Al Buhuuts islamiyyah, Riyadh, edisi 64 (hal: 193-251).
5- “منهج الإمام الشافعي في إثبات العقيدة“, karangan Syaikhuna Syaikh DR. Muhammad Bin Abdulwahhab Al Aqiil –hafidzahullah-, sebuah disertasi yang beliau tulis di Universitas Islam Madina, ia telah dicetak dan di terjemahkan kedalam bahasa indonesia.
Aqidah Imam Syafi’i dan prinsip-prinsip beragama beliau adalah aqidah dan prinsip yang diikuti oleh ulama Syafi’iyah yang setia berjalan diatas manhaj/mazhab imam mereka yang selamat dari syubuhat dan syahawat.
Mereka mempunyai peran besar dan usaha yang mulia sejak awal abad ketiga hijriyah dalam meperjuangkan dan menghidupkan sunnah serta berdakwah kepada aqidah salafiyah, mencela bid’ah dan mengingkarinya, mereka adalah para ulama besar yang karismatik dan para imam yang mulia yang di kenal dengan loyalitas tinggi, pengagungan yang besar dan kecintaan yang dalam kepada sunnah dan ahlinya, mereka telah menghabiskan umur dan waktu untuk menebarkan aqidah Ahlussunnah Wal jama’ah dan mengajak umat untuk berpegang teguh kepada Al Qur’an dan Sunnah berdasarkan manhaj salafus sholeh, dan mengingkari bemacam bentuk bid’ah dan menghujat para pelakunya dengan menggunakan bermacam fasilitas dan sarana yang syar’i, terkadang dengan pendidikan dan dakwah dan terkadang dengan menulis tentang sunnah yang mencakup penjelasan tentang aqidah ahlussunnah dan bantahan terhadap ahlulbid’ah dan lain-lain, hal itu mereka lakukan tiada lain kecuali ingin mengharapkan ridho Allah dan sebagai aplikasi terhadap makna nasehat kepada Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya dan kaum muslimin.
Berikut sebagian nama-nama ulama Syafi’iyyah yang setia mengikuti manhaj dan mazhab Imam Syafi’i dalam aqidah dan fiqih, dan sebagian dari karya tulis mereka tentang sunnah (aqidah) dan pengingkaran terhadap bid’ah dan aqidah-aqidah sempalan yang muncul dalam kehidupan kaum muslimin.
Akan tetapi sebelumnya perlu di ketahui, bahwa yang di maksud dengan sunnah disini adalah jalan dan pola hidup Rasulullah –shalallahu’alaihi wasallam- yang mencakup permasalahan aqidah dan ibadah, dan yang lebih khusus permasalahan-permaslahan yang berkaitan dengan aqidah. Inilah pengertian sunnah yang masyhur di kalangan salafus sholeh.
Syekhul islam Ibnu Taimiyah berkata: “Dan lafadz sunnah dalam perkataan salaf mencakup sunnah dalam permasalahan ibadah dan permasalahan aqidah, sekalipun mayoritas (ulama) yang menulis tentang sunnah bermaksud pembahasan tentang aqidah”[7].
Dan Imam Ibnu Rajab berkata –setelah menukil sebagian perkataan ulama salaf tentang sunnah-: “Dan maksud para ulama tersebut tentang sunnah adalah jalan Nabi –shalallahu’alaihi wasallam- yang di ikuti beliau dan para shahabatnya, yang selamat dari syubuhat dan syahawat, …kemudian istilah sunnah itu di kalangan mayoritas ulama muta’akhirin dari kalangan ahlulhadits dan yang lain dikenal dengan : sesuatu yang selamat dari syubuhat, terkhusus yang berkaitan dengan permasalahan iman kepada Allah, Malaikat, Kitab, Rasul dan hari akhirat, begitu juga yang berkaitan dengan masalah taqdir, keutamaan para shahabat, mereka telah menulis dalam keilmuan ini kitab kitab yang mereka beri judul dengan “As sunnah“, mereka mengkhususkan ilmu ini dengan nama sunnah kerena permasalahannya sangat urgen dan berbahaya sehingga orang yang menyelisihinya akan terjerumus kejurang kebinasaan (kesesatan), adapun sunnah dengan pengertian yang sempurna adalah jalan yang selamat dari syubuhat dan syahawat”[8].
Berikut diantara nama ulama Syafi’iyyah dan karya tulis mereka tentang sunnah dan aqidah:
1- Imam Abu Bakr Al Humaidi (wafat th. 219 H). Beliau mempunyai kitab tentang aqidah yang berjudul ( أصول السنة), kitab ini telah di cetak.
2- Imam Abdulaziz Al Kinaani (wafat th. 240 H), beliau mempunyai kitab yang berjudul (الحيدة والاعتذار في الرد على من قال بخلق القرآن), sebagai membantahan terhadap orang orang yang mengatakan Al Qur’an adalah makhluk, dan ia telah dicetak.
3- Imam Ismail Bin Yahya Al Muzani –murid senior Imam Syafi’i- (wafat th. 264H), beliau menulis kitab tentang aqidah yang berjudul (شرح السنة), telah di cetak.
4- Imam Utsman Bin Sa’id Ad Daarimi (wafat th. 282H), beliau menulis dua bua kitab yang sangat bagus dan bermanfaat tentang sunnah dan bantahan terhadap ahlulbid’ah[9], yang pertama: (الرد على الجهمية) dan yang kedua:(النقض على بشر المريسي الجهمي). Keduanya telah dicetak.
5- Imam Muhammad Bin Nashr Al Marwazi (wafat th. 294 H), beliau mempunyai kitab yang berjudul ( السنة), yang mengupas tentang kedudukan sunnah dan kewajiban untuk mengikutinya serta bantahan terhadap orang orang mengingkarinya, kitab ini telah di cetak.
6- Imam Abul Abbas Ibnu Suraij (wafat th. 306 H), beliau menulis kitab yang bagus tentang sunnah, sebagai jawaban terhadap pertanyaan tentang sifat Allah, dalam kitab itu beliau menjelasakan mazhab salaf dalam tauhid asma’ dan sifat dan perkara perkara lain yang berkaitan dengan prinsip-prinsip aqidah ahlussunnah wal jama’ah.
7- Imam Ibnu Khuzaimah (wafat th. 311 H), beliau menulis kitab tentang sunnah dan tauhid dengan judul ( التوحيد وإثبات صفات الرب عز وجل ), telah di cetak.
8- Imam Abul Hasan Al Buusyanji (wafat th. 347 H), beliau menulis kitab yang berjudul (التوحيد والرد على من خالف السنة )[10].
9- Imam Abul ‘Alaa’ Al Muharibi (wafat th. 359 H).
Al Khathiib Al Bagdaadi berkata: “Beliau mempunyai karangan tentang bantahan terhadap Al Qodariyah, Al Jahmiyyah, Al Rafidhah dan yang lain”[11].
10- Imam Abu Bakr Al Ajurri (wafat th. 360 H), beliau mengarang kitab yang sangat bagus dan bermanfaat tentang sunnah yang berjudul ( الشريعة ), dalam kitab ini beliau mengupas permasalahan aqidah islamiyah yang sesuai dengan manhaj ahlussunnah waljama’ah, dan bantahan terhadap sekte sekte yang menyelisihi Ahlussunnah dalam permasalahan tersebut, kitab ini telah dicetak.
11- Imam Abu Bakr Al Isma’ili (wafat th. 371 H), beliau memiliki kitab yang bagus tentang aqidah ahlussunnah yang berjudul ( اعتقاد أهل السنة), kitab ini telah di cetak.
12- Imam Abul Hasan Al Malathi (wafat th. 377 H), beliau mempunyai kitab yang membahas tentang pemikiran dan idiologi sesat sebagai bantahan tehadap ahlulbid’ah wal ahwa’ yang berjudul ( التنبيه والرد على أهل الأهواء والبدع). Kitab ini telah di cetak.
13- Imam Abul Qosim Al Laalakaa’i (wafat th. 418H), beliau mengarang sebuah kitab yang bagus tentang sunnah dan aqidah ahlusunnah wajama’ah dengan judul (شرح أصول اعتقاد أهل السنة والجماعة ), kitab ini termasuk ensiklopedi aqidah ahlussunnah yang memuat dalil-dalil, hadits dan perkataan ulama salaf beserta sanadnya.Kitab ini telah dicetak.
14- Imam Abu Utsman Ash Shoobuni (wafat th. 449 H), beliau menulis kitab yang bagus tentang sunnah dan aqidah ahlulhadits yang berjudul (عقيدة السلف أصحاب الحديث), kitab ini telah di cetak.
15- Imam Abul Qosim Az Zanjaani (wafat th. 471 H), beliau mempunyai Qoshidah dan syarahnya tentang sunnah dan aqidah ahlussunnah. Di dalamnya beliau menjelaskan pentingnya mengikuti Al qur’an dan Sunnah sesuai dengan manhaj salaf dan bahanya bid’ah serta bantahan terhadap ahlul bid’ah dari ahlulkalam, syi’ah (rofidhah), Khawarij, Al Jahmiyyah dan yang lain.
16- Imam Abu Muzaffar As Sam’ani (wafat th. 489H), beliau mempunyai kitab yang bagus tentang sunnah dan pembelahan terhadap ahlussunnah yang berjudul: (الانتصار لأصحاب الحديث).
17- Imam Abul Fath Nashr Al Maqdisi (wafat th. 490H), beliau mempunyai kitab yang bagus tentang sunnah yang berjudul ( الحجة على تارك المحجة), dalam kitab ini beliau menukil dalil-dalil dari Al Qur’an dan sunnah serta perkataan para ulama salaf yang memerintahkan untuk mengikuti sunnah dan larangan meninggalkannya serta celaan terhadap ilmu kalam dan para pemujanya. kitab ini telah di cetak.
18- Imam Abul Hasan Al Karji (wafat th. 532 H), beliau mempunyai kitab yang bagus tentang sunnah yang berjudul (الفصول في الأصول عن الأئمة الفحول إلزاما لذوي البدع والفضول). Dalam kitab ini beliau menukil dari duabelas imam ahlusunnah perkataan mereka tentang aqidah, diantara mereka: Imam Syafi’i, Malik, Ahmad Bin Hambal, Al Bukhari, Ibnu ‘Uyainah, Abdullah Bin Mubarak, Al Awzaa’I dan yang lain. Dalam kitab ini beliau mencela orang orang yang membedakan antara permasalahan aqidah dan fiqh dalam mengikuti para ulama mazhab, karena para ulama mazhab tidak membedakan antara kedua permasalahan diatas kerena semuanya kembali kepada Al Qur’an dan Sunnah. Biliau berkata: “Barangsiapa yang mengatkan : saya bermazhab Syafi’i dan beraqidah asy’ari, maka ini adalah dua perkara yang kontropersial, sebab tidak pernah Imam Syafi’i beraqidah asy’ari”[12].
19- Imam Qowamussunnah Abul Qosim At Taimi (wafat th. 535H), beliau menulis kitab yang mermanfaat dan bagus tentang sunnah yang berjudul (الحجة في بيان المحجة في شرح التوحيد ومذهب أهل السنة), telah di cetak.
20- Imam Yahya Bin Abil Khair Al ‘Imraani (wafat th. 558H), beliau menulis kitab bantahan yang bagus terhadap sekte Mu’tazilah Al qodariyah yang berjudul : (الانتصار في الرد على المعتزلة القدرية الأشرار ), kitab ini telah di cetak.
Itulah sebagian ulama Syafi’iyah dan karya tulis mereka yang menjelaskan tentang sunnah dan aqidah ahlussunnah wal jama’ah serta bantahan terhadap bermacam bid’ah yang muncul dalam bab aqidah dan sekte sekte sempalan yang menisbatkan diri kepada islam dan sunnah.
Tidak terbatas pada permasalahan itu saja, tetapi mereka juga menulis kitab kitab yang mencela dan mengingkari segala perkara yang baru dan bermacam bid’ah yang muncul dalam bab ibadah.
Diantara ulama Syafi’iyah dan karya tulis mereka dalam bab ini sebagai berikut:
21- Qodhi Abu Abdillah Husain Ad Dimyaati (wafat th. 648H), beliau mempunyai karya tulis yang mengkritisi bid’ah dan perkara perkara baru dalam agama, yang berjudul: (اللمعة في أحكام البدع) [13].
22- Imam Al ‘Iz Bin Abdussalam (wafat th. 661 H), beliau adalah seorang ulama yang karismatik yang mempunyai perang besar dalam menyeru kepada sunnah dan mengingkari bid’ah, beliau mempunyai dua karya tulis yang mengingkari bid’ah sholat ragaaib, yang pertama berjudul: (الترغيب عن صلاة الرغائب) yang kedua: (الرد على جواز صلاة الرغائب), keduanya telah di cetak.
23- Imam Abu Syaamah (wafat th. 665 H), beliau adalah murid Imam Al ‘Iz Bin Abdussalam, beliau mempunyai karya tulis yang bagus tentang bid’ah dengan judul: (الباعث على إنكار البدع والحوادث), telah di cetak.
24- Imam An Nawawi (wafat, th. 676 H), beliau adalah seorang ulama yang tidak asing di kalangan pengikut mazhab Syafi’i, beliau memiliki loyalitas tinggi kepada sunnah dan membenci bermacam bentuk bid’ah, hal ini sangat jelas dalam karya tulis beliau yang bagus dan bermanfaat, seperti “Syarah shohih Muslim”, “Al Majmu’ syarah muhazzab”, “Al Azkar” dan yang lain.
25- Imam Ali Bin Ibrahim Al ‘Aththaar, (wafat th. 724H), beliau adalah murid terdekat Imam Nawawi, beliau mempunyai karya tulis yang mengingkari bermacam bid’ah yang berkembang dalam bulan Rajab dan Sya’ban, diantaranya bid’ah sholat Nisfu sya’ban yang di kenal dengan sholat alfiyyah, judul kitabnya: (حكم صوم رجب وشعبان وما الصواب عند أهل العلم والعرفان وما أحدث فيهما وما يلزمه من البدع التي يتعين إزالتها على أهل الإيمان), telah di cetak.
26- Imam Hafizd Az Zahabi (wafat th. 748 H), beliau mempunyai karya tulis yang bagus dan bermanfaat tentang agidah dan seruan mengikuti sunnah dan penginkaran terhadap bid’ah, diantaranya: (العلو للعلي العظيم ) mengupas tentang dalil-dalil dari Al Qur’an dan sunnah serta perkataan ulama salaf dalam menetapkan sifat Uluw(tinggi) bagi Allah Ta’ala serta bantahan terhadap sekte sekte yang mengingkarinya. Diantara karangan beliau kitab (التمسك بالسنن) mengupas tentang kewajiban mengikuti sunnah dan mewaspadai bid’ah, dan kitab ( تشبه الخسيس بأهل الخميس) mengupas tentang larangan menyerupai non islam dan mengikuti hari hari besar dan tradisi tradisi mereka.semuanya telah di cetak.
27- Imam Ibnu An Nahhaas (wafat th. 814 H), beliau mempunyai kitab yang bagus mengupas tentang dosa dosa besar, kemungkaran kemungkaran dan bid’ah bid’ah yang muncul di kalangan kaum muslimin, yang berjudul: (تنبيه الغافلين عن أعمال الجاهلين وتحذير السالكين من أعمال الهالكين) kitab ini telah di cetak.
28- Hafizd Ibnu Hajar Al ‘Asqalani (wafat th. 852 H ), beliau salah seorang ulama ahli hadits dan fiqh yang memiliki karya tulis yang banyak dalam disiplin ilmu hadits dan yang lain, peran dan usaha beliau dalam memperjuangkan sunnah dan menginkari bid’ah tidak bisa di pungkiri, bahkan kitab beliau yang terkenal (فتح الباريفي شرح صحيح البخاري) sarat dengan seruan kepada sunnah dan bantahan terhadap bid’ah. Bahkan beliau telah menulis kitab yang bagus dan bermanfaat yang mengkoreksi hadits hadits yang dhoi’f dan palsu yang berkaitan dengan keutamana bulan rajab dan bid’ah bid’ah yang mucul di dalamya, beliau beri judul dengan: (تبيين العجب بما وردفي فضل رجب), dalam kitab ini beliau menyimpulkan bahwa seluruh hadits hadits yang menjelaskan keutamaan bulan Rajab dan keutamaan ibadah di dalamnya terkhusus hadits yang menjelaskan keutamaan sholat Ragaaib,semuanya hadits yang dho’if (tidak shohih) atau palsu. Kitab ini telah di cetak.
29- Imam Burhanuddin Al Biqaa’i (wafat th. 885 H), beliau memiliki beberapa karya tulis yang bagus dan bermanfaat yang mengajak kepada sunnah dan mengingkari bermacam bentuk bid’ah dalam aqidah dan ibadah, beliau adalah orang yang sangat tegas dan keras terhadap sekte sufi dengan bermacam pemikiran dan idiologi mereka seperti wihdatul wujud dan huluul (keyakinan bahwa Allah berada di mana mana), diantara karya tulis beliau dalam hal ini :
  • (تنبيه الغبي بتكفير ابن عربي) dalam kitab ini beliau menukil perkataan dan pernyataan para ulama ahlussunnah dari semua mazhab yang mengkafirkan Ibnu Arabi sebagai tokoh central pemikiran wihdatul wujud.
  • (تحذير العباد من أهل العناد ببدعة الاتحاد), kitab ini menjelaskan kekufuran pemikiran wihdatul wujud.
  • (صواب الجواب للسائل المرتاب المجادل المعارض في تفكير ابن الفارض), kitab ini membantah pernyataan sebagian orang yang meragukan kekufuran Ibnul Faaridh, salah seorang tokoh central pemikiran wihdatul wujud juga.
  • (السيف المسنون اللماع على المفتى المفتون بالابتداع), kitab ini sebagai bantahan terhadap seseorang yang membolehkan praktek praktek zikir yang bid’ah seperti zikir jama’I.
  • (إنارة الفكر بما هو الحق في كيفية الذكر), kitab ini juga mengkoreksi dan mengingkari praktek praktek zikir jama’I yang bid’ah yang di lakuan orang sebagian kaum muslimin.
30- Hafizd As Sayuthi (wafat th. 911 H), beliau mempunyai karya tulis yang bagus yang menjelaskan kedudukan sunnah dan kewajiban untuk mengikutinya serta bantahan terhadap orang orang yang mengingkari sunnah, yang berjudul: (مفتاح الجنة في الاعتصام بالسنة) dan kitab yang menjelaskan larangan melakukan bid’ah yang berjudul: (الأمر بالاتباع والنهي عن الابتداع) dalam kitab ini beliau berusaha mengumpulkan bid’ah bid’ah yang berkaitan dengan bermacam perkara agama. Keduanya telah di cetak.
31- Syaikh Ali Mahfuz (wafat th. 1361 H), beliau salah seorang ulama kontemporer yang berasal dari Mesir, beliau memiliki sebuah karya tulis yang bagus yang mengingkari bid’ah bid’ah yang muncul di masyarakat Mesir dan dunia islam, yang berjudul: (الإبداع في مضار الابتداع), kitabnya telah di cetak.
32- Syaikh Ahmad Bin Hajar Aalu Buu Thoomi (wafat th. 1423 H), salah seorang ulama ahlussunnah kontemporer berasal dari Qotar, beliau mempunyai banyak karya tulis tentang aqidah ahlussunnah dan seruan mengikuti sunnah serta larangan dari sikap taqlid dan fanatisme serta pengingkaran terhadap bid’ah bid’ah yang mucul di kalangan kaum muslimin, diantara tulisan beliau dalam hal ini: (سبيل الجنة بالتمسك بالقرآن والسنة) dan (تحذير المسلمين عن الابتداع والبدع في الدين), keduanya telah di cetak.
Itulah diantara karya tulis ulama Syafi’iyyah yang menjelaskan tentang sunnah dan kewajiban untuk memperjuangkannya serta menyeru untuk berpegang teguh kepadanya serta celaan terhadap bid’ah dan para pelakunya, hal ini menjelaskan kepada kita bahwa seluruh ulama ahlussunah dari dahulu sampai sekarang semuanya sepakat dalam mencela seluruh bentuk bid’ah yang muncul dalam agama dan juga para pelakunya.
Semoga Allah Ta’ala merahmati mereka semua dan membalas seluruh usaha dan kebaikkan mereka dengan sebaik-baik balasan, dan semoga karya tulis yang mereka tinggalkan bermanfaat bagi islam dan kaum muslimin, dan menjadikan kita orang orang yang melanjukkan tongkat estafet perjuangan mereka dalam membela sunnah dan mengingkari bid’ah, Amiin.

[1] Lihat: “Manaazil al aimmah al arba’ah”, Abu Zakariyah Yahya Bin Ibrahim As Salmaasi asy Syafi’i (hal: 54-55).
[2] Fushul min kiatabAl intishoor li ashhaabil hadits” (hal:46) dan lihat: “Al hujjah fi bayanil mahajjah” (2/224-225).
[3]Manaaqib Syafi’i”, Al Baihaqi (1/462).
[4]Majmu’ fatawa” (5/256-257).
[5] Sebagaimana yang beliau katakan dalam kitabnya yang bagus : “Al Fushuul fil ushuul ‘an al aimmah al fuhuul ilzaaman lizawil bida’ wal fudhuul”, di nukil oleh Ibnu Taimiyah dalam : “Majmu’ Fatawa” (4/177).
[6] Fushul min kitab “an intishaar li ashhaabil hadits” (hal: 9).
[7] Majmu’ fatawa (28/178).
[8] “Kasyful kurbah fi washfi ahlil gurbah” (hal: 18-20).
[9] Imam Ibnu Qoyyim berkata: “Dan kedua kitabnya merupakan kitab yang sangat bagus dan bermanfaat tentang sunnah, dan mesti bagi setiap orang yang mencari sunnah yang tujuannya ingin mengetahui apa yang diikuti (diyakini) oleh para shahabat, tabi’in dan para imam (sunnah), hendaklah ia membaca kedua kitab tersebut, dan dahulunya Syekhul islam (Ibnu Taimiyah) selalu mewasitkan dengan serius (kepada murid muridnya) dengan kedua kitab tersebut, dan beliau sangat mengagungkannya, dan dalam kitab tersebut terdapat penjelasan (pemaparan) tentang tauhid asma’ dan sifat dengan logika dan dalil yang tidak didapatkan hal itu pada (kitab) selainya”. “Ijtima’ al juyusy al islamiyah” (hal: 231).
[10] Lihat: “At Tahbiir” karangan As Sam’aani (1/254) dan “Taarikh tadwiin al aqidah as salafiyyah” (hal: 98).
[11]Tarikh bagdaad” (13/276) lihat juga: “Al Ansaab” karangan As Sam’ani (5/207) dan “Taarikh tadwiin al aqidah as salafiyyah” (hal: 101).
[12] Lihat: “Majmu’ fatawa” Syeikhul islam Ibnu Taimiyah (4/175-177).
[13] Lihat : “Thabaqaat asy Syafi’iyyah” karang Al Asnawi (1/170).












http://abangdani.wordpress.com/2011/03/24/prinsip-prinsip-imam-asy-syafii-dalam-beragama-muqoddimah/

Baca Selengkapnya...

Arsip Blog