
Pada jamannya, kaisar Asoka dikenal sebagai seorang kaisar yang gigih dalam menyebarkan ajaran Buddha ke segala penjuru dunia. Ia banyak mewariskan peninggalan-peninggalan Buddhis di seputar India, Punyab, Nepal, Pakistan hingga Afganistan kini. Mengetahui ini, banyak orang akan dengan mudah menganggap dan memastikan kalau beliau adalah seorang Buddhis fanatik. Namun mereka segera akan kecele bila mendengar pesannya berikut :
“Seseorang tak boleh hanya menghormati agamanya sendiri, tapi harus menghormati juga agama orang lain untuk berbagai alasan. Dengan melakukan hal ini, ia membantu agamanya sendiri untuk berkembang, sekaligus memberikan pelayanan pada agama lain. Bila bersikap sebaliknya, itu berarti ia sedang menggali liang kubur bagi agama yang ia anut, disamping menyakiti umat beragama lainnya.
Barang siapa yang terlampau meninggikan agamanya sendiri, sementara mencela agama lain dengan dalih ‘Saya memuliakan agama saya’, sebetulnya dengan berbuat demikian ia telah mencoreng dan melukai agamanya sendiri. Jadi kerukunan semestinya diterapkan dengan: memberikan kesempatan untuk mendengar serta selalu bersedia mendengar doktrin agama lain.”
“Seseorang tak boleh hanya menghormati agamanya sendiri, tapi harus menghormati juga agama orang lain untuk berbagai alasan. Dengan melakukan hal ini, ia membantu agamanya sendiri untuk berkembang, sekaligus memberikan pelayanan pada agama lain. Bila bersikap sebaliknya, itu berarti ia sedang menggali liang kubur bagi agama yang ia anut, disamping menyakiti umat beragama lainnya.
Barang siapa yang terlampau meninggikan agamanya sendiri, sementara mencela agama lain dengan dalih ‘Saya memuliakan agama saya’, sebetulnya dengan berbuat demikian ia telah mencoreng dan melukai agamanya sendiri. Jadi kerukunan semestinya diterapkan dengan: memberikan kesempatan untuk mendengar serta selalu bersedia mendengar doktrin agama lain.”