102 orang meninggal karena anjing gila di Denpasar

Virus rabies semakin mengganas di Bali dan hari ini kembali merenggut nyawa salah seorang warga Pulau Dewata. Korban I Ketut Suparma, 40, asal dusun Tongkang Anyar, Kecamatan Sidemen, Karangasem merupakan korban ke-5 penyakit anjing gila dalam sepekan terakhir.

Ketut Suparma yang sebelumnya sempat dirawat di Rumah Sakit Puri Raharja dirujuk ke Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah, Denpasar Kamis (14/10/2010) lalu karena kondisinya semakin kritis. Meski sempat dirawat di Ruang Isolasi Nusa Indah RSUP Sanglah, nyawa Ketut Suparma tetap tak tertolong dan menghembuskan nafas terakhir sekitar pukul 05.30 WITA pagi tadi.

Saat dirawat di ruang isolasi Nusa Indah, korban menunjukkan gejala klinis rabies di antaranya phobia atau ketakutan berlebih terhadap air dan cahaya.

Korban yang digigit anjing liar di bagian jempol tangan kanan enam bulan lalu, tidak pernah mendapatkan Vaksin Anti Rabies (VAR). Anjing liar tersebut juga sempat menggigit istri korban, namun sang istri telah mendapat suntikan VAR.

"Padahal istrinya juga digigit anjing yang sama dan ada riwayat mendapat VAR,” ujar Humas RSUP Sanglah, Denpasar Dr. IGNA Putra Wibawa, Sabtu (16/10/2010).

Selain Ketut Suparma, 4 pasien suspect rabies lain yang tewas pekan ini adalah Nyoman Suwadi, warga Padang Sambian, Denpasar, Made Wirata (32) warga Jalan Kartini, Wangaya, Denpasar, Putu Mudastra (20) warga Banjar Ababi, Abang, Karangasem, dan Nyoman Jasa (40) warga Baturiti, Tabanan.

Sejak rabies mewabah di Bali pada akhir tahun 2008 silam, sudah 102 nyawa melayang akibat virus mematikan yang menyerang saraf otak ini. Meski Pemerintah Daerah Bali telah melakukan berbagai upaya penanggulangan mulai dari elimininasi anjing liar hingga vaksinasi, tetap saja korban masih terus berjatuhan.

Arsip Blog