Jepang Gunakan Tes Kebohongan untuk Seleksi Calon Polisi


 Pemerintah Jepang mulai menggunakan alat tes kebohongan untuk seleksi calon polisi di negara tersebut. Langkah ini dilakukan menyusul banyaknya penyimpangan dan tindak kejahatan yang dilakukan oleh polisi.

Diberitakan seorang pejabat polisi Jepang yang dilansir Telegraph yang mengutip koran Asahi pekan ini, para calon polisi harus menjalani tes dengan mesin poligraph, atau mesin uji kebohongan. Mesin ini menilai kejujuran dengan pernafasan, detak jantung, tekanan darah dan arus listrik tubuh.

Pertanyaan yang akan diberitakan selama tes beragam. Di antaranya adalah "Apa pendapatmu soal pedofilia?" atau "Apakah anda sering melecehkan wanita?". Jika dalam tes hasilnya bagus, maka calon diterima.

Metode ini digunakan setelah tahun lalu sebanyak 60 polisi dipecat di Jepang, memicu ketidakpercayaan rakyat pada polisi. Selain itu, pada 2012 sebanyak 400 polisi dikenakan hukuman disiplin. Ini adalah jumlah terbanyak sejak tahun 2000.

Pada bulan ini, pemecatan dilakukan terhadap seorang polisi di Prefektur Aichi. Polisi tersebut ketahuan melecehkan seorang murid SMP. Selain itu, dia juga diketahui pernah mencoba memperkosa murid itu sebelum menjadi polisi.

Kasus lainnya terjadi di Prefektur Toyama pada Desember lalu. Seorang polisi ditahan karena membunuh sepasang suami istri dan membakar rumah mereka untuk menghilangkan bukti.

Sebelumnya pada April tahun lalu, polisi lainnya ditahan akibat menjilat rambut seorang wanita di sebuah restoran di Tokyo. Dia dibebastugaskan dan kemudian mengundurkan diri pada Agustus karena melecehkan remaja usia 15 tahun di stasiun kereta.

Seorang polisi di Tokyo juga dipecat lantaran tertangkap basah mengambil gambar celana dalam wanita di kereta.

Arsip Blog