Polemik Sebutan Istilah “Cina” Yang Dianggap Hinaan Seperti “Indon”

Cina, China, atau Tionghoa? Masih ada perbedaan penggunaan kata Cina dalam bahasa media massa kita. Bahasa media atau yang sering kita sebut sebagai bahasa jurnalistik, mengikuti kaidah berbahasa yang dianut otoritas media. Masing-masing media mempunyai alasan untuk menggunakan kata tersebut dalam konteks berbahasa. Dari perbedaan tersebut, lahirlah ide untuk mendudukan perkara berbahasa khususnya penggunaan kata Cina di Indonesia.
Sebutan "Cina" pada warga keturunan Tionghoa banyak dirasa berkonotasi kurang baik seakan ejekan atau hinaan
Forum Bahasa Media Massa (FBMM) yang dimotori oleh TD Asmadi bekerjasama dengan Kantor Berita Antara sepakat untuk menghadirkan pihak-pihak yang berkepentingan. Maka, terselenggaralah diskusi bertajuk “Duduk Perkara Istilah ‘Cina’: Beberapa Pandangan dan Pilihan Lain”. Acara yang diselengarakan di Wisma Antara tersebut menghadirkan pihak Kedutaan Cina, Kementerian Luar Negeri, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (BPPB), serta tokoh dari pegiat sastra.
Asal muasal perkara penggunaan kata Cina menurut Ketua FBMM, TD Asmadi, adalah kata Cina (tanpa ‘h’) dirasa memiliki nilai merendahkan. “Kata Cina, sama artinya kata ‘Indon’ untuk menyebut Indonesia oleh Malaysia,” jelasnya. Kata tersebut bagi orang Cina sendiri dinilai merendahkan. Hal tersebut terbukti secara langsung setelah utusan Kedutaan Cina di Indonesia yang menyatakan keberatannya. Menurut Mr. Zan Liang, Sekretaris III Kedutaan Cina, sebutan Cina untuknya dan bangsanya merupakan penghinaan. “Kata Cina (bukan China) rasanya merendahkan kami,” ujarnya.
http://www.mataberita.com/wp-content/uploads/2011/06/orang-china-mataberita-300x200.jpg
Pernyataan yang dilontarkannya cukup beralasan. Menurutnya, makna penghinaan itu tak lepas dari sejarah yang pernah terjadi di Cina. Kata itu, mengingatkannya dan bangsanya akan penderitaan ketika berperang dengan Jepang. “Saat itu, orang Jepang memanggil kami dengan sebutan Cina. Hingga sekarang kata itu membuat kita merasa direndahkan,” ungkapnya.
http://i.okezone.com/content/2011/01/06/18/411156/ZUa2hfdVPo.jpg
Bagi BPPB, selaku penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pihaknya menggunakan kata Cina dan China atau Tiongkok, karena menurutnya bahasa merupakan produk masyarakat. Kamus hanya mengumpulkan bahasa yang dipakai masyarakat. Pemakaian kata Cina dalam KBBI pun tak lepas dari sejarah kata itu. Kata Cina berasal dari bahasa Sansakerta, yang artinya ‘daerah pinggiran’.
Kata Cina sendiri menurut Abdul Gaffar, dari BPPB, merupakan serapan huruf dari kata China. “Kata Cina sudah akrab bagi lidah orang Indonesia,” ujarnya. Dalam diskusi yang berlangsung Jumat (12/8) sore, pihak Kedutaan Cina meminta agar orang Indonesia menggunakan kata China atau Tiongkok. “Ketika berbicara dengan orang China, gunakan kata yang tidak menyinggung perasaan orang lain,” kata Zang.
Ditemui selesai acara, TD Asmadi mengungkapkan perlunya kajian lebih lanjut dan lebih ilmiah untuk menyelesaikan perkara ini. “Saat ini belum ada penyelesaiannya. Butuh kajian ilmiah untuk dapat menyepakati perkara ini,” katanya. Ditanya soal kebijakan pers dalam penggunaan kata ini, Asmadi menyatakan terserah masing-masing pers. “Mereka mempunyai kebijakan dan pedoman dalam berbahasa sendiri. FBMM tidak bisa meminta mereka untuk menyepakati salah satu,” pungkasnya.


sumber :http://ruanghati.com/2011/08/12/polemik-sebutan-istilah-cina-yang-dianggap-hinaan-seperti-indon/

Arsip Blog