Wow, Panjang Cacing Ini 2,5 M

2801jack.jpg
CACING NIPAH — Karimah (26), warga Tanjung Api-api Km 40, Kabupaten Banyuasin, memperlihatkan cacing nipah sepanjang 2,5 meter yang dijualnya kepada pemancing langganannya.
KAWASAN Tanjung Api-api rupanya punya banyak kekayaan alam, baik tumbuhan mau pun hewan. Salah satu yang paling menarik yakni cacing nipah yang panjangnya bisa mencapai 2,5 meter. Karena bentuknya yang unik, hewan melata itu dinamai juga cacing naga.
Badan cacing seukuran jari warna merah, sedikit mirip lipan yang punya banyak kaki di sepanjang bagian bawah tubuh. Namun terlihat dan terasa lebih lunak khas hewan mollusca. Lembek tapi cacing itu punya dua taring besar di kepala.
Taring ini digunakan untuk mencari makan di tempat hidupnya. Cacing sembunyi dalam tanah di bawah akar pepohonan nipah yang banyak tumbuh di antara mangrove di ujung wilayah TAA dan Sungsang.
War (26), putra Timan yang menekuni pekerjaan mencari cacing nipah ini, mengatakan, cacing diambil menggunakan besi yang dibentuk garpu. Pada kondisi tertentu, Timan langsung menggunakan tangannya merogoh lumpur di bawah pohon nipah yang sudah mati.
“Saya tidak ikut lagi karena takut terpegang ular,” kata War, Kamis (27/1).
Timan menjual cacing ke pengumpul di Jembatan PU Rp 6.000 per ekor. Ia kemarin sedang mencari cacing sejak pukul 07.00 sampai pukul 17.00. Istrinya mengatakan, kalau pulang Timan membawa sekitar 30-40 ekor cacing.
Bagi mereka yang punya hobi memancing, cacing nipah merupakan salah satu umpan andalan untuk mendapatkan ikan. Teksturnya yang seperti cacing tanah dan sedikit kenyal sangat disukai ikan dan juga udang. Semut merah kecil langsung mengerubutinya begitu diletakkan di tanah.
Untuk jadi umpan, cacing dipotong dari ekor untuk dipasang pada kail. Rosinta, mahasiswi pascasarjana Unsri yang sedang survei tesis kajian lingkungan di Pelabuhan Fery/Kargo TAA kaget melihat cacing ini digunakan para pemancing.
“Saya baru lihat ada cacing panjang seperti itu dapatnya dari mana,” kata Rosinta ingin tahu lebih banyak.
Cacing ini dibeli pemancing Rp 8.000 per ekor dari Karima (35), pengepul di Jembatan PU. Kalau pasokan sedang sepi harganya bisa naik bisa mencapai Rp 15 ribu per ekor.
Puluhan cacing ditempatkan Karima dalam ember plastik yang diberi lumpur warna kehitaman. Cacing itu dipakai untuk umpan mancing ikan sembilang, baung laut dan lainnya. Sementara umpan udang lebih kecil ukurannya dijual Rp 10 ribu untuk tiga ekor.
“Saya beli tujuh ribu rupiah per cacing. Lalu saya jual delapan ribu. Lumayan untung seribu,” kata Karima.
Selain dipakai sebagai umpan pancing, Karima mengatakan ada juga orang yang memesan dalam jumlah puluhan untuk obat. Namun Karima tidak dapat memberikan keterangan lebih lanjut khasiat soal cacing ini, seperti cacing tanah yang digunakan orang untuk obat tifus.
Sedikit Referensi Sementara itu masih sedikit referensi cacing nipah di mesin pencari google.com. Dilihat dari bentuk tubuhnya, cacing nipah masuk filum annelida (dalam bahasa latin, annulus = cincin) atau cacing gelang merupakan cacing selomata yang memiliki tubuh memanjang, simeffi bilateral, bersegmen, dan permukaannya dilapisi kutikula. Dinding tubuh dilengkapi otot. Memiliki prostomium dan sistem sirkulasi. Saluran pencernaan lengkap.
Filum annelida dibagi menjadi kelas polychaeta (berambut banyak), oligochaeta (berambut sedikit), dan hirudinea. Cacing nipah mendekati ciri polychaeta.
Kebanyakan cacing annelida hidup akuatik di laut dan terestrial di air tawar atau darat. Ia hidup di berbagai tempat dengan membuat liang sendiri, umumnya bereproduksi secara seksual dengan pembantukan gamet.
Annelida memiliki panjang tubuh sekitar 1 mm hingga 3 meter. Contoh annelida yang panjangnya 3 meter adalah cacing tanah Australia.

Sumber: http://cheatpbcvg.blogspot.com/2011/02/wow-panjang-cacing-ini-25-m.html#comment-form

Arsip Blog